100 Istilah Kosa Kata dalam Haji dan Umroh

100 Istilah Kosa Kata Definisi dan Pengertian dalam Haji dan Umroh Yang Wajib Kamu Tahu Sebelum Melaksanakan Ibadah Ke Tanah Suci Arab Saudi, Berikut Adalah Daftarnya 100 Istilah Kosa Kata dalam Haji dan Umroh:




Haji ialah : berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) dan melakukan beberapa amalan antara lain : Wukuf, Tawaf, Sa’i serta amalan lainya pada masa tertentu, demi memenuhi pangilan Allah SWT. dan mengharap Ridla-Nya.

Umroh ialah : berkunjung ke – Baitullah, dan melakukan Tawaf, Sa’i serta bertahallul demi mengharap Ridho Allah.

Rukun Haji Ialah : rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah Haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain, walaupun dengan dam (denda). Jika ditingalkan maka hajinya tidak sah.

Wajib Haji : ialah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah Haji, bila tidak dikerjakan sah Hajinya, akan tetapi harus membayar dam (denda).

Miqat Zamani ialah : batas waktu Haji. Menurut Jumhur (sebagaian besar) Ulama’, Miqat Zamani mulai tanggal 01 Syawal sampai terbit fajar tangal 10 Dzul Hijah

Miqat Makani ialah : Tempat untuk memulai niat mengerjakan ibadah Haji / Umroh.

Thawaf ialah : mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali (Ka’bah selalu berada di sebelah kiri) Dimulai dan diakhiri pada garis sejajar Hajar Aswad, Tawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali. (Ka'bah berada di sebelah kiri) di mulai dari arah sejajar Hajar Aswad. Orang yang melakukan tawaf harus dalam keadaan suci dari hadas besar, kecil dan najis.

Macam-macam tawaf sebagai berikut:
a. Tawaf Qudum ialah tawaf sunat sebagai penghormatan pada Baitullah(tahiyat), bagi orang yang melaksanakan haji ifrad atau haji qiran, sedangkan bagi haji tamattu' ketika pertama kali memasuki kota Mekkah langsung melakukan tawaf umrah. Tawaf umrah adalah rukun umrah, orang yang telah melakukan tawaf umrah berarti dia telah melakukan tawaf qudum karena didalamnya telah mencakup makna tawaf qudum.
b. Tawaf Ifadah ialah tawaf rukun haji apabila di tinggalkan tidak sah hajinya. adapun waktunya sesudah Wukuf di Arafah sedangkan awal waktunya setelah lewat tengah malam tanggal 10 Julhijah.
c. Tawaf Wada ialah tawaf pamitan yang wajib dilakukan seseorang yang akan meninggalkan kota Mekkah dan Tawaf Wada tersebut tidak disertai dengan sa'i.
d. Tawaf Sunat ialah tawaf yang dilakukan setiap masuk masjidil Haram tanpa pakaian ihram dan bukan dalam rangka haji.

Sa’i ialah : berjalan dari bukit Shafa ke bukit Marwah, dan sebaliknya sebanyak 7 kali dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari bukit Shafa ke bukit Marwah atau sebaliknya masing – masing dihitung 1 kali.

Wukuf ialah : keberadaan diri seseorang di padang Arafah walau sejenak dalam waktu antara tergelincir matahari tanggal 9 Dzul Hijjah (hari Arafah) sampai terbit fajar hari Nahar (tanggal 10 Dzul Hijjah)


Mabit ialah : Bermalam / istirahat.
Mabit terbagi menjadi dua :
a. Mabit di Muzdalifah ialah : bermalam di Muzdalifah setelah Wukuf di Arafah. Ketentuan Mabit di Muzdalifah adalah keberadaan jamaah dianggap sah walaupun sesaat setelah lewat tengah malam.
b. Mabit di Mina ialah : bermalam di Mina pada hari – hari Tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzul Hijjah). Ketentuan Mabit di Mina adalah keberadaan jamaah Haji dianggap sah apabila melewati lebih separuh malam.

Melempar Jumrah ialah : melempar dengan batu kerikil yang mengenai marma (lubang Ula, Wustha dan Aqabah) dan batu kerikil harus masuk ke dalam lubang Marma tersebut pada hari Nahar dan hari – hari Tasyrik.

Tahallul ialah : keadaan seseorang yang dihalalkan (dibolehkan) melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang selama berihram.
Tahallul ada dua macam :
a. Tahallul awal ialah : keadaan seseorang yang telah melakukan dua diantara tiga perbuatan, misalnya melempar Jumrah Aqobah dan bercukur atau melempar Jumrah Aqabah dan Thawaf Ifadlah serta Sa’i dan bercukur. Sesudah Tahallul awal seseorang boleh berganti pakaian biasa dan memakai wangi – wangian, dan boleh mengerjakan semua yang dilarang selama Ihram kecuali bersetubuh.
b. Tahallul Tsani ialah : keadaan seseorang yang telah melakukan ketiga perbuatan : melontar Jumrah Aqadah, bercukur dan Thawaf Ifadlah serta Sa’i. Bagi yang telah melakukan Sa’i setelah Thawaf 

Qudum tidak perlu melakukan Sa’i setelah Thawaf Ifadah. Sesudah Tahallul Tsani seseorang baru boleh bersetubuh dengan isterinya.

Badal Haji, menghajikan orang lain dan hukumnya boleh dengan ketentuan bahwa orang yang menjadi wakil harus sudah melakukan haji wajib bagi dirinya dan yang diwakili (dihajikan itu) telah mampu untuk pergi haji tetapi dia tidak dapat melaksanakan sendiri karena sakit yang tidak dapat diharapkan sembuhnya. (Udzur Syar'i) yang menghilangkan istitha'ahnya (kemampuannya) atau karena meninggal dunia setelah dia berniat haji. Orang laki-laki boleh mengerjakan untuk laki-laki dan perempuan, demikian pula sebaliknya. Di utamakan yang mengerjakan itu adalah keluarganya.

Badal Melontar Jumroh, Bagi yang berhalangan (Udzur Syar'i) boleh mewakilkan kewajiban melontar jumroh kepada orang lain. Caranya dengan mendahulukan melontar jumroh Ula untuk dirinya, kemudian melontar untuk yang diwakili. Demikian seterusnya untuk melontar jumroh Wustha dan Aqobah.

Dam menurut bahasa artinya darah, sedangkan menurut istilah adalah : mengalirkan darah (menyembelih ternak yang sudah memenuhi syarat untuk berkorban yaitu Kambing, Unta atau Sapi di tanah Haram dalam rangka memenuhi ketentuan manasik Haji) Menurut artinya adalah darah, sedang menurut istilah adalah mengalirkan darah untuk Baitullah dengan menyembelih ternak, yaitu kambing, unta atau sapi ditanah Haram dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji. Dan terdiri dari 2 (dua) macam , yaitu :
a. Dam Nusuk (Karena memang aturannya demikian) dikenakan bagi orang yang mengerjakan haji Tamattu' atau haji Qiran.
b. Dam Isa'ah (Karena melanggar aturan) :
1) Melanggar aturan Ihram haji dan Umrah
2) Meninggalkan salah satu wajib haji atau Umrah yang terdiri dari :
a) Tidak berihram dari Miqat
b) Tidak Mabit di Muzdalifah
c) Tidak Mabit di Mina
d) Tidak Melontar Jumroh
e) Tidak Tawaf Wada'

Nafar menurut bahasa artinya rombongan. Sedangkan menurut istilah adalah : keberangkatan jamaah Haji meninggalkan Mina pada hari – hari Tasyrik.
Nafar terbagi dua bagian :
a. Nafar Awal adalah keberangkatan jamaah Haji meninggalkan Mina lebih awal, paling lambat sebelum terbenam matahari tanggal 12 Dzul Hijjah dan setelah melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqobah.
b. Nafar Tsani adalah keberangkatan jamaah Haji meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzul Hijjah setelah melontar 3 Jumrah tersebut.

Hari Tarwiyah yaitu : hari tanggal 8 Dzul Hijjah. Dinamakan hari Tarwiyah (pembekalan) karena jamaah Haji pada Zaman Rosulullah mulai mengisi perbekalan air di Mina untuk perjalanan ke Arafah.

Hari Arafah yaitu : hari tanggal 9 Dzul Hijjah. Dinamakan hari Arafah karena semua jamaah Haji harus berada di padang Arafah untuk Wukuf.

Hari Nahr yaitu : hari tanggal 10 Zul Hijjah. Dinamakan hari Nahr (penyembelihan) karena pada hari itu dilaksanakannya pemyembelihan dam dan Qurban.

Hari tasyrik yaitu : hari tanggal 11,12,13 Dzull Hijjah. Pada hari – hari itu Jamaah haji berada di Mina untuk melontar Jumrah dan Mabit.


Shalat Qashar dan Jama’
a. Shalat Jama'. Jama' artinya mengumpulkan, yaitu mengumpulkan dua shalat wajib yang dikerjakan dalam satu waktu yang sama. Shalat yang dapat di Jama' adalah Dzuhur dengan Ashar dan Magrib dengan Isya'.
b. Shalat Qashar. Qashar artinya mendekatkan shalat Shalat 4 rakaat menjadi 2 rakaat (Dzuhur, Ashar dan Isya'). Ketentuan ini hanya boleh dibolehkan dalam waktu Safar.
Shalat Jama' terbagi menjadi 2 bagian : 1) Jama' Taqdim : yaitu mengumpulkan 2 waktu shalat dikerjakan pada waktu shalat yang terdahulu. Contoh : Dzuhur dengan Ashar dikerjakan pada waktu Dzuhur.
2) Jama' Ta'khir : yaitu mengumpulkan 2 waktu shalat dikerjakan pada waktu shalat yang terbelakang. Contoh : Dzuhur dengan Ashar dikerjakan pada waktu Ashar.
c. Shalat Jama' Qashar adalah dua shalat fardu dikerjakan bersama dengan memendekan rakaat-rakaat shalat menjadi dua rakaat (Dzuhur, Ashar, dan Isya') dan shalat Jama' Qasar dapat saja menjadi Taqdim atau Ta'khir.

Shalat jenazah adalah : Shalat yang dikerjakan untuk Jenazah orang Islam. Shalat jenazah merupakan salah satu fardlu kifayah yang hampir selalu dilaksanakan setiap usai Shalat berjamaah, baik di Masjid Nabawi atau Masjid Haram

Shalat Jenazah terdiri dari empat takbir, yaitu :
a. Takbiratul Ikhrom dengan niat dalam hati menshalatkan Jenazah. Selesai Takbir kemudian membaca Al – Fatihah
b. Takbir kedua
Setelah itu membaca Sholawat pada Nabi Muhammad SAW.
c. Takbir ketiga
Lalu membaca do’a bagi orang yang dishalati dan kaum muslimin yang telah wafat.
d. Takbir keempat
Setelah takbir keempat boleh langsung salam, boleh juga membaca do’a pendek.
Shalat jenazah diakhiri dengan membaca salam. Sunnah hukumnya untuk menyempurnakan salam sampai akhir, yaitu : Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.


Shalat Li Hurmatil Waqti
Ketika kita akan melakukan Shalat Fardlu namun kita tidak menemukan alat bersuci (air / debu), maka kita melakukan Shalat Li Hurmati Waqti, seperti misalnya kita sedang berada di kapal terbang.
Artinya jika melakukan Shalat tanpa bersuci (karena tidak ada alat bersuci) maka setelah kita sampai tujuan dan mendapatkan air atau debu, maka kita harus Shalat I’adah, yaitu mengulang Shalat yang kita lakukan tadi.


Intiqolul Madzhab / pindah Madzhab
Artinya kita mengikuti Madzhab lain. Umpamanya kita menganut madzhab Syafi’i, kemudian kita pindah ke madzhab Maliki. Perihal pindah Madzhab ini ada Syarat – Syaratnya, antara lain harus satu qodliyah (masalah), misalnya dalam hal wudlu, jika kita pindah ke madzhab Maliki maka semua yang berkaitan dengan wudlu harus mengikuti madzhab Maliki, yaitu tentang Syarat, rukun dan yang membatalkan wudlu.

Hajar Aswad
batu berwarna hitam kemerah-merahan dengan luas permukaan kurang lebih 30 cm persegi yang menempel di Rukun Yamani. Bagi jemaah haji disunnatkan mencium, menyapu atau mengangkat tangan padanya ketika memulai thawaf. Batu ini dimuliakan oleh Allah SWT, sehingga dikatakan sebagai simbol tangan kanan Allah di muka bumi bagi hamba-hambanya yang mukmin. Batu tersebut dilingkari dengan bingkai perak putih.

Hijir Ismail
nama tempat yang terletak disebelah utara Ka'bah, dilingkari oleh tembok lebar (Al-Hathimu). Hijir Ismail ini setiap saat dipenuhi hamba-hamba Allah, terutama ketika musim haji. Di tempat ini jemaah haji melakukan shalat, berdoa dan sebagainya. Tempat ini sama mulianya dengan di dalam Ka'bah; Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Siti Aisyah ingin sekali memasuki Ka'bah dan beribadah di dalamnya, lalu Rasulullah SAW memerintahkan masuk Hijir Ismail saja dan tidak ke dalam Ka'bah, sebab shalat/beribadah di Hijir Ismail sama dengan di dalam Ka'bah.

Ibadah Umrah
Berkunjung ke Baitullah di Makkah untuk melakukan Tawaf, Sa'i, dan memotong/mencukur rambut (tahallul) dan dapat dilakukan kapan saja demi mencapai ridha Allah.

Hukum Ibadah Umrah adalah wajib bagi orang yang pertama kali melaksanakan dan bagi orang yang bernazar. Sedangkan bagi orang-orang yang melaksanakan Umrah kedua kali dan seterusnya hukumnya sunat. Umrah dapat dilaksanakan sewaktu-waktu di luar musim haji(kecuali pada waktu wukuf dan hari-hari Tasyrik).

Ihram
Niat mulai menjalankan haji/umrah. Pakaian Ihram ialah pakaian yang dipakai oleh orang yang melakukan ibadah haji dan umrah dengan ketentuan:
a) Bagi pria memakai dua helai kain yang tidak berjahit, satu diselendangkan di bahu dan satu disarungkan menutupi pusar sampai dengan lutut. pada waktu melaksanakan tawaf, di sunnahkan memakai kain Ihram dikenakan dengan cara idtiba, yaitu dengan membuka bahu sebelah kanan dengan membiarkan bahu sebelah kiri menutup kain Ihram. Tidak boleh memakai baju, celana atau kain biasa. Diperbolehkan memakai ikat pinggang, jam tangan dan alas kaki yang tidak menutup mata kaki ketika shalat, sunatnya diselendangkan di atas kedua bahu hingga dada sehingga kedua pundaknya tertutup.
b) Bagi wanita memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan.
Sunat sebelum berihram : mandi, memakai minyak wangi, menyisir rambut dan memotong kuku.
Larangan Ihram :
Bagi pria dilarang: memakai pakaian berjahit (bertangkup), memakai sepatu/alas kaki yang menutupi mata kaki dan menutup kepala (seperti topi).
Bagi wanita dilarang : berkaos tangan(menutup telapak tangan) dan menutup muka (bercadar).
Bagi kedua-duanya dilarang : memakai wangi-wangian kecuali yang dipakai sebelum berihram, memotong kuku dan mencukur atau mencabut bulu badan, berburu atau menggangu/membunuh binatang dengan cara apapun, Nikah, menikahkan atau meminang wanita untuk dinikahi, bercumbu atau bersetubuh (rafas), mencaci atau bertengkar mengucap kata-kata kotor (fusuq atau jidal) dan memotong pepohonan di tanah haram.

Istita'ah
Menurut pengertian umum ialah mampu. Sedangkan yang dimaksud Istita'ah disini adalah mampu melaksanakan ibadah haji ditinjau dari :
a. Jasmani
1) Tidak sulit melakukan ibadah haji/umrah.
2) Tidak lumpuh.
3) Tidak dalam keadaan sakit yang diperkirakan lama untuk sembuh.
b. Rohani
1) Memahami manasik haji/umrah.
2) Berakal sehat (tidak mengidap penyakit gangguan jiwa) dan
memiliki kesiapan mental untuk ibadah haji/umrah dengan
perjalanan yang jauh.
c. Ekonomi
1) Mampu membayar biaya perjalanan ibadah haji (BPIH).
2) Memiliki biaya hidup untuk keluarga yang ditinggalkannya.
3) Bagi para petugas haji istita'ah ekonominya adalah :
a) Memenuhi persyaratan dan aman waktu melaksanakan ibadah
haji/umrah.
b) Aman bagi keluarga dan harta benda yang ditinggalkannya
selama melakukan ibadah haji/umrah.
d. Keamanan
1) Aman dalam perjalanan dan aman waktu melaksanakan ibadah
haji/umrah.
2) Aman bagi keluarga dan harta benda yang ditinggalkannya selama
melakukan ibadah haji/umrah.

Jabal Nur dan Gua Hira, Terletak disebelah utara Masjidil Haram kira-kira 6 km. Untuk mendaki ke atas memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Di puncaknya, agak menurun sedikit, terdapat sebuah gua yang cukup untuk duduk 4 orang. Tinggi didalamnya setinggi orang berdiri. Gua tersebut terkenal dengan Gua Hira. Jabar Nur dan Gua Hira mempunyai makna yang sangat penting dalam sejarah Islam, karena di gua inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, yaitu Surat Al-Alaq ayat 1-5.

Jabal Rahmah, Seluruh bukit yang terletak di sebelah sudut Padang Arafah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa setelah Rasulullah SAW menyampaikan khutbah Wada' di Masjid Namirah, barulah beliau melakukan Wukuf di kaki Jabal Rahmah yang merupakan bagian dari Padang Arafah dan disini pula tempat pertemuan antara Nabi Adam As dan isteri tercintanya Siti Hawa setelah berpisah selama 100 tahun.

Jabal Tsur, Terletak disebelah selatan Masjidil Haram sejauh kurang lebi 6 km. Jabal Tsur ini mempunyai nilai penting dalam sejarah Islam. Rasulullah SAW bersama-sama dengan Abu Bakar Ashiddiq pernah berlindung di gunung tersebut waktu hendak hijrah ke Madinah. Menurut riwayat, setelah Rasulullah SAW selamat dari kepungan orang kafir Quraisy dirumahnya, maka beliau dengan diam-diam menyinggahi sahabat Abu Bakar Ashiddiq. Dari rumah Abu Bakar beliau bersama-sama dengan Abu Bakar lebih dahulu berlindung bersembunyi di Jabal Tsur kemudian menuju Madinah, sebagian orang-orang kafir Quraisy waktu mengejar Rasulullah SAW ada yang telah sampai Gua Tsur, mereka mendapatkan gua tersebut, tertutup dengan sarang laba-laba, dan nampang burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya. Dengan melihat keadaan yang sedemikian itu, mereka berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak mungkin bersembunyi di gua tersebut. Sewaktu orang-orang Quraisy di muka gua, bukan main cemas hati sahabat Abu Bakar Ashiddiq, kemudian turun wahyu Allah Surat At-Taubah ayat 40. Setelah orang kafir Quraisy pergi maka beberapa hari kemudian Abu Bakar Ashiddiq berangkat menuju Madinah dengan selamat. Di atas Jabal Tsur terdapat sebuah gua, jika ingin masuk ke dalam gua haru bertiarap dan setelah masuk hanya dapat duduk saja. Untuk mencapai gua Tsur ini memerlukan perjalanan mendaki selama kurang lebih 1,5 jam.

Jabal Uhud (Bukut Uhud)
Nama sebuah bukut terbesar di kota Madinah yang letaknya 5 km dari pusat kota Madinah, terletak di pinggir jalan Madinah-Makkah mulai tahun 1984 perjalanan jemaah haji Makkah ke Madinah atau dari Madinah ke Jeddah tidak melalui jalan jama tersebut, melainkan melalui jalan baru yang tidak melewati pinggir jabal Uhud. Dilembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah sebanyak 3000 orang. Dalam pertempuran tersebut kaum muslimin gugur sampai 70 orang syuhada, antara lain Hamzah bin Abdul Muthalib paman Nabi Muhammad SAW.

Ka'bah
Bangunan persegi empat yang berada di dalam Masjidil Haram terkenal dengan sebutal Baitul 'Atiq. Ke arah Ka'bah inilah semua umat Islam menghadap ketika Shalat. Ka'bah mempunyai empat sudut atau rukun, yakni; a. Rukun Al-Aswad, yaitu sudut yang terletak di Hajar Aswad dan disampinya pintu Ka'bah. b. Rukun Syami, yaitu sudut yang menghadap ke negeri Syam atau Syiria. c. Rukun Iraqi, yaitu sudut yang menghadap ke negeri Iraq. d. Rukun Yamani, yaitu sudut yang menghadap ke negeri Yaman.

Khandak / Masjid Khamsah
Khandak berarti parit pertahanan sehubungan dengan peristiwa pengepungan kota Madinah oleh kafir Quraisy. Penggalian parit ini dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, peristiwa pengepungan ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke lima Hijriyah. Peninggalan perang khandak yang ada sampai sekarang hanya berupa lima buah pos yang dulnya berjumlah tujuh pos.

Kiswah, Kain hitam yang membungkus atau membalut Ka'bah. Menurut riwayat, Kiswah ini ada sejak zaman Nabi Ismail, kemudian di ikuti secara turun temurun oleh kaum Quraisy yang menjadi penjaga Ka'bah dan dilanjutkan sampai sekarang. Kiswah dibuat dari bahan sutera asli yang alami disulam dengan berbagai kaligrafi ayat-ayat Al-Quran berwarna emas. Adapun Kiswah khusus untuk pintu Ka'bah dinamakan dengan A-barqa. Setiap tahun, Kiswah ini diganti oleh Kerajaan Arab Saudi dengan upacara khusus sebelum wukuf.

Lailatul Jam'in, Yaitu malam tanggal 10 Zulhijah, dinamakan demikian pada malam itu keharusan Wukuf dan kewajiban Mabit di Muzdalifah berlaku.

Ma'la, Tanah kuburan bagi penduduk Makkah sejak jaman dahulu kala sampai sekarang. Jemaah haji dari seluruh dunia yang meninggal di Makkah biasanya dimakamkan di Ma'la yang letaknya tidak jauh dari Masjidil Haram arab sebelah timur.

Makam Baqi, Tanah kuburan untuk penduduk Madinah sejak zaman jahiliyah sampai sekarang. Jemaah haji yang meninggal di Madinah dimakamkan di Baqi yang letaknya di sebelah timur dari Masjid Nabawi. Disini di makamkan Usman Bin Affan RA (Khalifah III) dan para istri Nabi, yaitu Siti Aisyah RA, Umi Salamah, Juwariyah, Zainab, Hafshah binti Umar Bin Khattab dan Mariyah Al Qibtiyah RA. Juga di Baqi ini dimakamkan putra-putri Rasulullah SAW, diantaranya Ibrahim, Siti Fatimah, Zainab dan Ummu Kulsum. Demikian pula Ruqayyah Halimatus Sa'diyah ibu yang menyusui Rasulullah SAW. Sahabat yang pertama kali dimakamkan di Baqi adalah Abu Umamah, Hasan bin Zararah dari kaum Anshar dan Usman bin Maz'un dari holongan Muhajirin.

Makam Hawa, adalah tanah kuburan bagi penduduk Jeddah sejak zaman dahulu sampai sekarang. Menurut salah satu riwayat di pemakaman inilah Siti Hawa di makamkan.

Maqam Ibrahim, batu yang terdapat bekas telapak kaki Nabi Ibrahim ketika membangun Ka'bah. Bekas kedua telapak kaki itu dalamnya 10 cm, batu tersebut berukuran panjang 27 cm, lebar 14 cm, jarak antara telapak kaki kanan dengan kiri 1 cm. Diatas batu tersebut, Nabi Ibrahim berdiri dan menjadikannya sebagai tangga untuk membangun Ka'bah. Saat ini Maqam Ibrahim telah disapu perak, tetapi bekas telapak masih terlihat dengan jelas. Letaknya kurang lebih 8 meter dari Ka'bah. Pada masa Raja Faishal, Maqam Ibrahim dikelilingi dengan bangunan kecil beratap yang dikurung dengan marmer seluas 130 x 180 cm dengan ketinggian 75 cm. Bagi kaum muslimin disyariatkan untuk shalat di Maqam Ibrahim.

Marwah, bukit yang saat ini berada dalam Masjidil Haram yang dijadikan tempat untuk mengakhiri Sa'i dan termasuk tempat mustajab.

Masjid Jin, terletak di dekat Ma'la. Dinamakan Masjid Jin, karena para Jin bersepakat (berbai'at) mengakui Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah dan disitu pula tempat turunnya wahyu (surat Jin). Masjid Jin ada kaitannya dengan asbabul nuzul surat Jin.

Masjid Nawirah, letaknya di sebelah barat Padang Arafah, menuruh hikayat disinilah Rasulullah SAW menyampaikan pidato Wada' (perpisahan) kepada umat Islam yang menunaikan ibadah haji bersama beliau pada tahun itu.

Masjid Qiblatain, Masjid ini Sebelumnya dinamai Masjid Bani Salamah, letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat istana raja ke jurusan Wadi Aqiq. Pada awalnya, qiblat menghadap ke arah Baitul Maqdis di Jerusalem/Palestina, kemudian turunlah wahyu agar memindahkan qiblat dari arah semula ke arah Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang berarti Masjid berqiblat dua yaitu ke arah Jerusalem/Palestina dan ke arah Masjidil Haram.

Masjid Quba, Sebuah Masjid yang terletak di Quba, terletak kira-kira 5 km sebelah barat daya Madinah. Waktu Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, orang-orang pertama yang menyongsong kedatangan Rasulullah SAW adalah penduduk Quba. Karena orang-orang Quba dan Madinah belum mengenal Nabi, maka tatkala Nabi bersama pengiring tunggalnya yaitu Abu Bakar Ashiddiq datang berpakaian yang sama-sama putih, mereka ragu-ragu mana yang Nabi. Hal itu menarik perhatian Abu Bakar. Untuk menghilangkan keragu-raguan mereka, maka Abu Bakar memegang selendang dan dilindungkan ke atas kepala Nabi Muhammad SAW.

Multazam, tempat yang letaknya diantara Hajar Aswad dengan pintu Ka'bah. Disebut Multazam karena orang-orang yang berada di tempat itu berdo'a memohon Allah dan memastikan bahwa do'anya dikabulkan oleh Allah SWT.

Ra'ml, Lari-lari kecil antara dua pilar hijau hanya disunatkan bagi laki-laki yang mampu melaksanakannya, sedangkan bagi wanita tidak disunatkan lari-lari kecil

Raudhah, Suatu tempat di dalam Masjid Nabawi yang letaknya ditandai dengan tiang-tiang putih, berada diantara Rumah Nabi (sekarang Makam Rasulullah SAW) sampai mimbar. Adapun luas Raudhah dari arah timur ke barat sepanjang 22 meter dan dari utara ke selatan 2 meter. Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk berdo'a.

Shalat Jum'at di Arafah, Muzdalifah dan Mina,  apabila hari wukuf jatuh pada hari jum'at para pakar islam menyatakan jamaah haji tidak diwajibkan melaksanakan shalat jum'at. Demikian pula di Muzdalifah dan Mina.

Shofa, bukit yang pada saat ini berada di dalam Masjidil Haram yang dijadikan tempat untuk memulai Sa'i dan termasuk tempat mustajab

Tayamum
bersuci dari hadas kecil maupun besar dengan menggunakan debu yang suci. Tayamum diperbolehkan dalam keadaan ketidakadaan atau kekurangan air ketika seseorang berada dalam bus, kereta api atau pesawat terbang.

Udzur Syar'i
Sesuatu yang menyebabkan seseorang menurut hukum diperbolehkan tidak melaksanakan sesuatu yang seharusnya dilakukan atau dibolehkan melaksanakan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.

Ziarah
Ziarah tidak termasuk rangkaian ibah haji, tetapi untuk memenuhi anjuran nabi Muhammad SAW.
a) Tujuan ziarah, ziarah merupakan amalan yang bertujuan melihat dari dekat tempat-tempat bersejarah dan untuk menyaksikan secara nyata tempat-tempat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan agama Islam agar dapat memperoleh iman. Ziarah ke tempat bersejarah baik di Mekkah, Madinah maupun tempat lain tidak termasuk rangkaian ibadah haji.
b) Hukum ziarah, hukum asal berziarah ketempat bersejarah adalah mubah. Bila dilaksanakan dengan niat baik untuk menambah iman dan keyakinan terhadap kebesaran ajaran Islam hukumnya menjadi sunah. Tetapi apabila dilaksanakan dengan cara berlebihan misalnya dengan cara mengeramatkan tempat-tempat tersebut sehingga menimbulkan kemusyrikan, maka hukumnya menjadi haram.
Previous
Next Post »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...