5 Tipe Orang Naik Haji dan Umrah

5 Tipe Orang Naik Haji dan Umrah Ada beberapa macam Tipe tipe seseorang melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah. Bukan hanya di Indonesia saja, namun diseluruh penjuru dunia. Titel haji banyak dianggap kramat dan merasa berwibawa serta mendongkrak status sosial seseorang. Baik, kita tinggalkan sejenak masalah demikian. Kita kembali kepada Tipe Orang Naik Haji.

Memang secara potensial, haji bisa dinilai sebagai ibadah tertinggi, maksudnya adalah, pengalaman haji mampu membuka peluang untuk mengantarkan seseorang kepada kesadaran ketuhanan sebagai puncak dari tujuan hidup menjadi “ibaad al-rahman” (Q.S: Al-Furqan [25]: 63-77).



Konsep “ibaad al-rahman” bisa disebut dengan "Haji Mabrur", sebagaimana sabda Nabi SAW, “Haji mabrur tiada balasan yang pantas baginya kecuali surga.”

Tidak sedikit calon jamaah haji yang tidak mengidamkan gelar "Ibadur rahman/mabrur". Meski Pemberian gelar ini adalah otoritas dan Allah yang menentukan. Namun, bukan berarti manusia tidak diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berusaha meraihnya. Realitanya, haji mabrur dapat dicandra melalui perilaku Pak Haji atau Bu Hajjah sepulang dia berhaji, apakah perbuatannya semakin baik, atau statis (tidak berubah), atau justru kian buruk dan Sombong.?

Secara sederhana, haji mabrur dapat diartikan sebagai haji yang tidak sekadar memenuhi rukun, kewajiban, dan sunnah-sunnah haji secara teknis fiqhiyah, namun lebih dari itu berimplikasi juga pada peningkatan kualitas kesalehan baik individual maupun sosial, vertikal maupun horisontal, ibadah mahdlah maupun ibadah ijtima’yah, sepulangnya ke Tanah Air.

Pertanyaannya, Apakah pantas kita menyematkan gelar haji (mabrur) kepada beberapa orang yang berperilaku kontradiktif dengan nilai-nilai ketuhanan (god mentality) dan ajaran haji yang telah dia lakukan? Pasalnya, gelar haji yang disandang sama sekali belum merubah Sikapnya dan belum berimplikasi positif terhadap perilakunya sehari-hari.

Banyak Contoh yang bisa dikaji, di antaranya masih banyak ditemukan pejabat yang bergelar haji terindikasi kasus kejahatan, seperti korupsi, pengebirian hak-hak rakyat dan sebagainya.

Menyaksikan fenomena masih kukuhnya mentalitas negatif para elit penguasa kita yang notabene mayoritas bergelar haji, tampaknya ada yang perlu dikoreksi oleh para calon haji. Bisa jadi harta yang mereka gunakan untuk berhaji adalah syubhat (masih diragukan kehalalannya) atau bahkan terang haramnya. Misalnya, hasil menindas, menipu, korupsi, atau praktek kolusi.

Kemungkinan lain yang menjadi faktor pemicu tetap suburnya perilaku negatif adalah karena kesalahan niat dalam berhaji. Artinya, ibadah yang dilakukan bukan karena mencari rida Allah yang tersimpul dalam predikat haji mabrur. Dalam konteks inilah, setidaknya ada beberapa jenis tipikal haji yang bisa kita cermati.

Pertama, tipe haji wisata. Orang yang berhaji model ini cenderung beranggapan, tanah suci adalah objek wisata layaknya Gunung Bromo, Pantai Sanur, Menara Eiffel, Patung Liberty, Tembok Besar Cina, dan sebagainya. Tidak heran, yang dominan di alam khayal nya adalah keindahan, kenyamanan, dan fantasi hiburan.

Selain itu, yang terbenak di pikirannya ketika hendak kembali ke Tanah Air adalah oleh-oleh apa yang akan dibawa untuk tetangga dan sanak keluarga, foto-foto seperti apa yang akan dipertontonkan dan cerita-cerita dahsyat apa yang akan dikisahkan kepada sanak saudara serta tetangga. Tipe ini seperti Ibadah Haji hanya sebatas "Haji Plesiran".

Kedua, tipe haji bisnis. Tipe haji ini yaitu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Haji merupakan urusan akhirat. Karenanya, penghayatannya harus lebih berorientasi kepada kehidupan akhirat. Bagaimana bisa menghadap Allah secara ikhlas jika orientasi untung rugi materi terselip di dalam hati.

Contohnya adalah mereka yang ditunjuk pemerintah sebagai petugas haji boleh juga kita kategorikan ke dalam tipikal ini. Tugas mereka semestinya melayani urusan jemaah haji, bukan malah mengambil kesempatan untuk berhaji. Akibatnya, banyak urusan jemaah haji yang terabaikan dan terbengkalai karena sibuk dengan ‘ibadahnya’ sendiri.

Ketiga, tipe haji pamer, Tipe haji yang di lakukan orang yang sudah terlalu kaya dan riya di Indonesia, Sampai 100x Haji tapi kelakuannya tidak berubah, meningkat citra baik di masyarakat dan pamer harta kekayaan dengan Foto Selfie di Depan Kabah Menjadi Salah Satu tanda tipe haji ini.

Keempat, tipe haji politik. Sama Halnya dengan tipe haji pamer akan tetapi, tipe haji yang lebih diorientasikan untuk meraih prestasi, prestise, dan hegemoni politik. Karena, bagaimana pun, gelar haji mampu mendongkrak status sosial seseorang. Target utama haji tipe ini adalah keterpikatan kantung suara umat Islam terhadap sosok yang sengaja dia desain menjadi seolah relijius. Biasanya, setelah ambisi politik tercapai, Pak Haji Politik ini akan kembali seperti aslinya, yaitu korup, arogan, otoriter, menindas, dan membiarkan massa pendukungnya tetap dalam belitan ekonomi, kebodohan, dan sebagainya.

Kelima, tipe haji mabrur. Tipe inilah yang dikehendaki Allah SWT. Indikasinya terlihat dari adanya peningkatan ibadah baik ritual maupun sosial, vertikal maupun horisontal, Setelah berhaji.

Langkah awal dalam menggapai haji mabrur adalah meluruskan motivasi (niat) dan menanamkan keikhlasan serta ketawakkalannya semata-mata karena Allah SWT. Ciri Haji Mabrur terlihat dari Sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa yang keluar melaksanakan haji, kemudian dia menjaga perkataannya dari hal-hal yang kotor (rafats) dan tidak berbuat kefasikan, maka ia datang ke dunia ini seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.” (HR. Bukhari)

Alangkah ruginya kita melakukan amal ibadah haji dengan bersusah payah, mengerahkan banyak pengorbanan fisik dan materi, namun kemabrurannya hilang karena kesalahan motivasi atau niat, seperti riya’ (pamer), ‘ujub (membanggakan diri sendiri), takabbur (sombong), dan sebagainya.

Oleh sebab itu, meluruskan niat dalam haji merupakan kewajiban. Dalam hal ini, tidak ada salahnya bila kita belajar pada Abu Yazid al-Bistami, salah seorang tokoh sufi. Abu Yazid pernah berujar, “Pada perjalanan haji yang pertama, saya hanya melihat rumah Tuhan; pada yang kedua, saya melihat rumah Tuhan dan pemilik-Nya; dan pada perjalanan haji yang ketiga, saya hanya melihat Tuhan saja.” Artinya, niat haji hanyalah karena Tuhan semata.

Previous
Next Post »
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...